TIM AMBULANS PMI TERJANG ABU MERAPI

MAT

Evakuasi Merapi 2010

Gunung Merapi terletak di perbatasan 4 Kabupaten dan di 2 Provinsi, yaitu Boyolali, Magelang, Klaten ( Prov.Jateng) dan Sleman ( Prov.DIY ). Erupsi Gunung Merapi 26 Oktober 2010 menyimpan banyak cerita baik dari sisi logika dan yang tidak masuk akal. Ada sebagian masyarakat yang tidak percaya kalau Gunung Merapi merupakan ancaman, akan tetapi merupakan simbiosis dan menyatu dengan kehidupan masyarakat dilereng Merapi.Sebagai Komandan Tim Satgana PMI Kabupaten Boyolali yang telah lama mendampingi masyarakat lereng Gunung Merapi, ada cerita yang menarik pada saat terjadi bencana erupsi Merapi 2010 ini, yach karena saya sudah mengalami kejadian yang sama di tahun 2006, mengingat saya sudah lebih dari sepuluh tahun saya menjadi relawan yang tergabung dalam KSR dan Tim Satgana PMI. ( Satuan Siaga Penanggulangan Bencana )

BPPTK Yogyakarta melalui Pemerintah Boyolali menetapkan status Merapi ada peningkatan dari level SIAGA ke AWAS, semua elemen masyarakat berbenah baik dari Pemerintah, LSM dan lembaga lain. PMI Kabupaten Boyolali juga tidak ketinggalan membantu Pemerintah dalam upaya penanggulangan bencana. Pada tanggal 26 Oktober 2010 pukul 09.00 WIB saya dan segenap pengurus PMI berkoordinasi di kantor Kecamatan Cepogo dan Selo. Yang beberapa hari sebelumnya PMI droping peralatan DU dan kesiapsiagaan bencana lainnya  di Tempat Penampungan Pengungsi. Untuk mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi dan juga cek kesiapan perlengkapan penanggulangan bencana. Tim Satgana PMI Boyolali di hari yang sama pada pukul 14.00 WIB juga mendirikan shelter untuk tempat penampungan pengungsi di lapangan Samiran Selo . Pada pukul 16.30 WIB, sudah selesai mendirikan tenda dan kembali ke Markas PMI.

Pada pukul 17.22 Wib ada informasi Merapi meletus dengan cepat 1 regu PP, 1 regu Assesment dan Dapur Umum  meluncur ke Tempat Pengungsian di Selo dengan peralatan seadanya. Kita bersiap sedia dengan berbagai peralatan mulai dari peralatan DU, obat-obatan, dan beberapa bahan kebutuhan lainnya. Dan  dalam hitungan menit, suasana berubah menjadi heboh saat  ribuan orang sudah memadati lapangan tempat pengungsian. Pada masa tanggap darurat Merapi ini saya didaulat menjadi kordinator lapangan yang harus tanggap terhadap situasi lapangan. Saya mulai bergerak memonitor area kecamatan Selo, ya disana ribuan pengungsi sudah memenuhi shelter-shelter pengungsian dan bangunan-bangunan lain yang dinilai aman menjadi tempat tinggal sementara. Terlihat bangunan SMK, SD, Aula Kecamatan, Puskesmas, Gedung UPT Dikdas & LS, Balai Desa Samiran, Bungalow Tersenyum dan Selo Pass sudah berubah menjadi tempat tinggal massal. PMI dengan segala kemampuan mengadakan pelayanan dapur umum dan Assessment cepat untuk mengetahui kebutuhan dasar para pengungsi. Selain itu PMI juga membantu evakuasi bagi masyarakat/ kelompok rentan yang meliputi bayi, anak-anak, ibu hamil, dan seluruh warga yang berada di radius 5 km.

Perasaan bercampur aduk antara rasa kemanusiaan dan keselamatan. Masih terbayang ketika malam itu saya bersama Tim Ambulans PMI menerjang hujan abu dan kabut Merapi yang begitu pekat sedangkan medan lereng Merapi yang sangat terjal dan berbahaya jika dilalui oleh orang-orang yang belum menguasai medan. Saya pun juga turut serta dalam operasi tersebut untuk menyisir di dusun yang terpencil dan terisolisir dan tidak bisa terjangkau oleh truk evakuasi. Ada cerita yang memilukan dan membuat hati miris di ketika masyarakat semua lari ke pengungsian dan ternyata ada seorang nenek didalam sebuah rumah di Desa Klakah, Nenek tersebut kami temukan berada di rumah sendirian karena di tinggal anak dan keluarganya. Hati saya trenyuh, Ya Alloh kasihan bener nenek ini, ditengah guyuran hujan abu dan hawa dingin dia di tinggal sendiri di dalam rumah. Tim Ambulans PMI dengan sigap mengevakuasi ke dalam mobil yang sebelumnya mendobrak pintu karena di kunci keluarganya dari luar.

Ada cerita menyentuh hati lagi yaitu ketika Tim Ambulans mengevakuasi pasien dari dusun Stabelan, kami mendapat laporan ada pasien stroke yang di tinggal di rumah dan keluarganya semua sudah mengungsi dan katanya lupa untuk mengevakuasi. Tidak tahu, entah lupa atau bagaimana, yang jelas jiwa saya bergetar saat itu. Meskipun pasien tersebut berada di dusun paling atas di lereng Merapi. Saya tekatkan Tim Ambulans PMI dengan segala kekuatan naik ke dukuh paling atas yang hanya berjarak 3,5 km dari puncak Merapi untuk mengevakuasi pasien tersebut. Begitu sampai di TPS (Tempat Pengungsian Sementara) ada  miskomunikasi dengan pihak RSU, ahh masa pasien yang sudah diangkut oleh Tim PMI di tengah jalan diminta im RSU? Saya hampir marah karena pihak RSU begitu ngotot untuk meminta pasien, tidak tahu juga mengapa ini bisa terjadi? menurutku ada 2 alasan pertama Tim RSU tidak punya nyali untuk mengambil pasien di daerah rawan bencana atau hanya sekedar menunjukan bahwa mereka bener-bener bertugas. Demi kemanusiaan saya sebagai kordinator lapangan kita kedepankan keselamatan dan kenyamanan pasien kita pindah di  tengah guyuran hujan abu yang pekat. Dari pada mencari muka di tengah-tengah bencana, kami pun mengalah dan menyerahkan pasien dipindah ke Ambulans RSU dengan harapan akan mendapatkan perawatan lebih baik.

Namun yang membuat kami jengkel dan marah pasien itu pun juga cuma dibawa ke Tempat Pengungsian Sementara bukan di rujuk ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan yang lebih memadahi. Begitu sampai di Tempat Pengungsian kondisi pasien semakin memburuk dan membiarkan dia tetap di shelter adalah hal sangat tidak memungkinkan. Mau tidak mau pasien harus di rujuk ke tempat yang fasilitas kesehatannya bisa menolong pasien tersebut. Kami menyarankan untuk di rujuk tetapi apa alasannya katanya kita diperintahkan stand by? Sebuah jawaban yang tidak masuk akal dengan berkoordinasi lanjut tetep pihak RSU tidak mau rujuk katanya juga terlalu bahaya kalau malam hari. Kami memutuskan meminta pasien untuk merujuk ke Puskesmas terdekat, ironis memang Tim Ambulans yang seharusnya berkiprah di bencana dengan alasan sopir tidak berani dengan medan yang sulit atau alasan apapun keselamatan pasien di abaikan. Detik-detik yang mendebarkan dan menegangkan di tengah perjalanan pasien mengalami pingsan 3 kali yang kami dikhawatirkan apabila sampai meninggal di perjalanan. Dengan kondisi jalan rusak dan keadaan kendaraan apa adanya, Tim  berpacu dengan waktu. Semua cuma bisa berdoa semoga pasien ini di selamatkan. Dilain pihak memikirkan keselamatan pasien di sisi lain kami juga harus memikirkan keselamatan penolong karena hampir semua Desa dan jalan evakuasi di lereng Merapi dilewati jurang/ sungai yang menjadi jalur awan wedus gembel. Waktu menunjukkan pukul 02.30 dini hari Tim ambulans PMI berhasil membawa pasien ke Puskesmas Dukun Magelang. ( karena menjadi daerah aman dan jalurnya yang tidak melintasi sungai )

Mata saya beralih ke wajah-wajah Tim Ambulans yang tampak kelelahan, malam ini kami berhasil mengevakuasi hampir 10 pasien dan di rujuk ke fasilitas kesehatan. Saya tersenyum bangga, ada kepuasan tersendiri bisa mengomando Tim yang memiliki semangat sebagai relawan. Ya, relawan yang harus selalu rela dengan segala keadaan dan terkadang pun melawan hal-hal yang menakutkan, semua demi kemanusiaan. Relawan, kadang rela, kadang melawan, aku tersenyum lagi memandang wajah-wajah yang terbaring asal-asalan di tempat penampungan sementara Dukuh Telogomulyo. Sekitar 05.00 WIB Tim Ambulans kembali ke Tempat Pengungsian Akhir di lapangan Samiran Selo, yang berjarak sekitar 20 km dengan rasa capek dan bangga karena telah menyelesaikan tugas yang benar-benar menantang di lereng Merapi, Selanjutnya di posko Samiran kami melayani tugas dapur umum, pelayanan kesehatan, assessment dan selalu berkoordinasi dengan Pemerintah, Tim SAR, TNI/ Polri dan relawan lainnya.

Ketika proses evakuasi banyak anggota keluarga yang tidak mau di evakuasi karena harus menunggu anggota lainnya padahal situasi dan kondisinya tidak memugkinkan karena letusan Merapi sudah semakin besar dan masing-masing keluarga sudah menyelamatkan sendiri-sendiri. Bisa jadi dalam satu keluarga tidak menjadi satu di shelter pengungsian. Kesiapsiagaan bencana perlu di bangun sejak dini baik oleh Pemerintah, Masyarakat dan Anak sekolah. Yang menjadi catatan dari pengalaman kami adalah kemanusiaan tidak mengenal batas wilayah dan tidak membeda-bedakan terhadap sesama. Semoga PMI selalu terdepan dalam upaya penanggulangan bencana.

HUMAS PMI KAB.BOYOLALI By : ( Teguh, Komandan Tim Satgana PMI Kabupaten Boyolali )

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s